Tantangan pejabat daerah, gubernur, bupati, walikota sampai pada tingkat lurah (kepala desa) cukup berat jika dihadapkan bagaimana strategi untuk memasarkan nilai lokal kedaerahan untuk dapat bersaing dalam era bebas saat ini. Secara umum memasarkan daerah berarti mendesain suatu daerah agar mampu memenuhi dan memuaskan keinginan dan harapan/ekspektasi pelanggannya. Pelanggan dalam kontek ini adalah penduduk dan masyarakat, trader, tourist dan investor, sumberdaya manusia, developer/pengembang, organizer serta seluruh pihak yang memiliki kontribusi dalam membangun keunggulan bersaing daerah.
Untuk membangun daerah menuju keunggulan bersaing adalah meningkatkan upaya produktifitas (nilai output yang dihasilkan per input yang digunakan) yang kemudian mampu meningkatkan kualitas hidup dan standar hidup masyarakat dalam jangka panjang atau berkelanjutan. Untuk upaya tersebut, daerah harus mampu menarik sumber daya terbaik, baik dari dalam maupun luar daerah, nasional maupun global sebagai dasar memacu produktifitas.
Langkah strategis daerah dalam mengoptimalkan sumberdaya dalam bersaing yaitu pertama menjadi tuan rumah yang baik bagi pelanggan daerah (be a good host). Kedua memperlakukan mereka secara baik (treat your guest properly) dan ketiga adalah membangun sebuah “rumah” nyaman bagi mereka (building a home sweet home).

Sebagai strategi pertama, be a good host , suatu daerah harus melakukan kolaborasi kohesif antar masyarakat, kalangan bisnis dan pemerintah. Tiga pelaku tersebut harus mampu menjadi pemasar yang baik dan mampu mengedukasi agar mereka menjadi knowledge dan terus mendongkrak produktifitas daerah dan kualitas standar hidup.  Terdapat kontek “welcome” dari lapisan masyarakat. LSM sampai dengan DPRD atas kedatangan trader, tourist dan investor. DIsi lain tiga pilar yang diurai di atas harus mampu membangun iklim bisnis yang menjamin semakin meningkatnya peluang investasi di daerah tersebut. Ini artinya akan berkaitan juga dengan kebijakan pemerintah yang dibangun untuk menciptakan iklim kondusif dan kohesif dalam masyarakat.
Treat your guest properly,, memperlakukan tourist, trader, investor, sumber daya manusia, developer dan organizer dengan semestinya berarti bahwa suatu daerah harus mampu mengidentifikasi keinginan dan ekpektasi mereka serta secara responsive memenuhi keinginan tersebut. Sehingga daerah secara berkelanjutan membangun live ability, investability dan visitability.
Live ability dapat dilakukan dengan menjamin kompetitif biaya hidup, memperbaiki fasilitas umum, layanan public, menekan kriminalitas, dan menciptakan kenyamanan lingkungan. Investability dapat ditingkatan melalui penyediaan tenaga kerja terampil, memperbaiki infrastruktur dan fasilitas produksi, menjamin daya tarik investor, akses pusat bisnis (nasional/internasional), sistem birokrasi dan regulasi yang kondusir dan lainlain. Visitability dapat ditingkatkan dengan menyediakan fasilitas transportasi akomodasi kompetitif, mengupgrade dan merevitalisasi tujuan-tujuan wisata, membangun kemudahan serta menciptakan suasana aman dan nyaman..
Membangun rumah yang nyaman (building home a sweet home) bagi tourist, trader, investor, sumberdaya manusia, developer dan organizer, daerah harus mampu menyediakan wahana yang memadai bagi aktifitas mereka. SIngapura (sekedar contoh) merupakan salah satu negara yang mampu menyediakan “rumah ideal” bagi ribuan perusahaan dari berbagai penjuru dunia (baca:bangsa). Bisa dipastikan perusahaan-perusahaan multinasional memiliki kantor representative di SIngapura. Singapura berhasil menyediakan infrastruktur/suprastruktur yang memadai dan menunjang aktivitas operasional mereka, mulai fasilitas pameran, konferensi, telekomunikasi, akses pusat-pusat bisnis global sampai perguruan tinggi yang menarik bagi masyarakat dunia.
Untuk mendukung tiga langkah membangun daya saing daerah, harus pula menggeser paradigma lama dalam pengelolaan ekonomi daerah dari pendekatan birokratis ke pendekatan strategic entrepreneurial. Dalam pendekatan strategic entrepreneurial, terdapat tiga elemen yang harus dipenuhi yaitu penetapan visi dan tujuan jangka panjang daerah, upaya membangun budaya entrepreneurial ke segenap SDM daerah dan perumusan strategi daerah yang solid. Melalui tiga hal ini daerah diharapkan lebih efektif dan terarah dalammenciptakan daya saing daerahnya.
Sumber : Hermawan Kertajaya dan Yuswohady, Strategi Memasarkan Daerah di Era Otonomi, dengan beberapa perubahan